Berbagai Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesia
Berbagai Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesia
Tradisi untuk membangunkan orang untuk makan sahur sudan menjadi budaya di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan beragam tradisi dilakukan beberapa daerah untuk membangunkan orang dengan cara berbeda.
Dari daerah utara Jawa, warga di kawasan Pantai Utara (Pantura) menyebut tradisi itu dengan istilah Komprekan. Namun di Kawasan Cirebon disebut Obrok Burok, Warga Jawa Timur menyebut Tetekan dan di Semarang membangunkan orang sahur disebut Dekdukan.
Dari daerah Salatiga, Jawa Tengah yang tradisi itu disebut Percalan. Pada bulan puasa, anak-anak dan para pemuda tidak akan tidur di rumah, melainkan di ushola. Pada sekitar jam 2 malam mereka akan bangun, kemudian membawa tetabuhan seperti kentongan bambu, besi bekas, bedug, ember bekas, yang kemudian akan dipukul dengan memadukan irama yang enak di dengar. Selanjutnya mereka akan berkeliling kampung dan membangunkan para warga supaya bangun untuk melaksanakan makan sahur. Tradisi ini disebut dengan percalan. Tradisi ini telah dilaksanakan dari puluhan tahun yang lalu dan dilestarikan sampai sekarang oleh masyarakat di Salatiga.
Ternyata tidak hanya di Pulau Jawa, di luar pulau pun, tradisi seperti itu memiliki penyebutan yang berbeda. Seperti di daerah Gorontalo misalnya terdapat tradisi serupa yang disebut Tumbilotohe. Namun apapun namanya, semua tradisi ini memiliki satu kesamaan yakni bertujuan membangunkan masyarakat agar tidak sampai melewatkan sahur.
Beda lagi di daerah ibukota Jakarta ada namanya tradisi Ngarak Bedug atau Beduk Saur. Tradisi membangunkan orang untuk sahur juga dilakukan warga ibu kota. Hanya saja, tiap wilayah menyebut tradisi ini dengan nama yang berbeda. Untuk masyarakat Betawi Joglo, Palmerah, Rawabelong, Condet, Buncit hingga ke daerah Tangerang menyebutnya dengan Ngarak Beduk. Sedangkan warga betawi yang bermukim di daerah timur Jakarta, seperti Bekasi sering menyebutnya dengan Beduk Saur.
Sedangkan di daerah Kuningan tradisi membangunkan orang sahur sudah ada sejak 1970, disebut dengan Ubrug- Ubrug. Tradisi itu mulai dilakukan setiap menjelang puasa, sekelompok pemuda akan membentuk tim terdiri dari 10 orang yang masing-masing 5 orang membawa genjring, 2 orang membawa kohkol (kentongan bambu), 1 penabuh bedug, dan 2 lainnya mendorong gerobak bedug.